Entah kenapa aku tidak bisa melupakan tanggal itu
3 tahun yang lalu aku begitu bahagia, dan aku selalu berpikir inilah happy ending yang selalu ada di dalam buku-buku dongeng antara putri dan pangeran
Dan sekarang, itu hanyalah seperti mimpi yang tidak pernah benar-benar terjadi
hanya 2 minggu kebahagiaan itu, lalu berubah jadi mimpi buruk yang selalu menghantui ku hingga hari ini
Aku masih berusaha untuk menghormati betapa sakralnya sebuah pernikahan, namun untuk mempercayainya...seperti sebuah hal yang mustahil
oke, aku melihat begitu banyak teman-teman yang akhirnya berkeluarga, punya anak dan bahagia
tapi sekali lagi aku tidak bisa mempercayainya untuk alasan apapun, terlebih ketika aku menemukan seseorang yang benar-benar mencintaiku, lalu aku melihat ketidakmungkinan diantara kita...cinta seperti sebuah bayangan, hanya bayangan yang bisa dilihat namun sangat mustahil untuk menjadi nyata
aku benci menjadi seperti ini...
aku benci 22 maret
dan aku sangat sangat membencinya
laki-laki itu....Tunas matin pribadi
Selasa, 22 Maret 2011
Senin, 14 Maret 2011
Minggu, 13 Maret 2011
Sebuah cinta hanya untuk dinikmati
Raguku seperti lenyap seketika..
Untuk satu kebodohan yang sangat bodoh
Karena banyak sesuatu yang membuatku mual
Maka aku berhadapan dengan hal ini
Namun saat ini perutku seperti mual
Bukan karena ragu yang hadir (dan kurasa dia tidak akan pernah hadir)
Tapi karena aku masih meyakininya ketika dia sudah benar2 menyerah
Aku benci mencintainya......
(Setelah menangis semalaman untuknya)
Untuk satu kebodohan yang sangat bodoh
Karena banyak sesuatu yang membuatku mual
Maka aku berhadapan dengan hal ini
Namun saat ini perutku seperti mual
Bukan karena ragu yang hadir (dan kurasa dia tidak akan pernah hadir)
Tapi karena aku masih meyakininya ketika dia sudah benar2 menyerah
Aku benci mencintainya......
(Setelah menangis semalaman untuknya)
Sabtu, 05 Maret 2011
Tentang si Bungsu..
8 Agustus 1994
Aunu Rofiq...begitu ayahku memberinya nama. Tidak keren menurutku, seharusnya ayah memberinya nama Fernando atau Sergio karena saat itu aku lagi demam telenovela. Tapi Aunu rofiq, bukannya malah terdengar seperti penyanyi dangdut..>,<
Okay mungkin dia tidak pernah suka musik dangdut, dari kecil hingga sekarang 16 tahun.Yang kutahu selera si Aunu Rofiq ini tidak beda jauh dari aku, bukan karena aku kakaknya tapi karena dari kecil aku sudah sering mengomelinya kalau dia bersikap kampungan bin lebay. nahhh ternyata apa yang kuajarkan tidak sia-siakan?
Dibandingkan aku dengan Fathur Ridwan, adikku yang pertama. Aunu Rofiq memiliki kualitas otak dan IQ yang lebih baik, bukan karena kami bodoh atau semacamnya, si Aunu Rofiq ini hanya lebih baik di exact dan hitung-hitungan...aku mencoba mengingat apa saja yang diberikan ibuku untuknya. kenapa aku begitu membenci matematika dan tidak seperti dia yang selalu mendapatkan nilai bagus dalam soal hitungan. kami sama-sama mendapatkan ASI dari sumber yang sama. Bahkan susu tambahan dan makanan lain seingatku juga tidak ada yang istimewa...oke itu mungkin faktor keberuntungan nya si Aunu Rofik.
Tapi ketika sejak kecil dia selalu sakit-sakitan dan sering keluar masuk rumah sakit, aku dan mungkin juga Fathur ridwan merasa sangat bersalah. bukan apa-apa karena aku dan Fathur ridwan tidak pernah menderita penyakit apapun kecuali flu jika kami main hujan-hujanan, tapi Aunu Rofiq ini sejak kecil sudah didiagnosa dokter berbagai macam penyakit seperti ; Alergi, asthma, gastritis, TBC, types serta dia gampang sekali terkena virus. harusnya Tuhan membagi penyakit-penyakit itu kepada kami bertiga dan bukan menumpuknya ditubuh Aunu Rofik. Tapi ya..mungkin itu cara Tuhan mendidik Aunu Rofik, menjadikannya berbeda diantara kami. Meskipun sebenarnya dia sudah sangat berbeda. sejak dia dilahirkan aku merasa dialah anak ayah ibu yang paling disayang, kami sering sekali berebutan untuk mencium pipinya. Jika dia menangis, ibupun tidak segan untuk memarahi kami meskipun kadang itu bukan salah kami. Mungkin juga perbedaan itu karena waktu itu Aunu Rofiq sering sakit-sakitan sehingga wajar kalau ibu lebih memperhatikannya.
Dan sekarang ketika si youngest son ini sudah 16 tahun, dia masih saja tampak berbeda diantara kami. Salah satunya adalah dia masih saja suka nonton film kartun, tak perduli film apapun. Aku masih ingat waktu dia kelas 2 SMP dan masih tertegun melihat teletubbies :D, waktu itu setiap kali dia menonton film yang seharusnya ditujukan untuk komunitas playgroup itu aku selalu berdoa semoga nantinya dia akan baik-baik saja. (^__^)
Aunu Rofiq adalah pribadi yang unik, diluar kesukaannya pada film kartun. Dia sangat pintar menabung. untuk hal ini aku selalu membayangkan kalau saja aku memiliki sifat hemat nya, tentu saat ini aku sudah punya rumah dan kendaraan dari hasil jerih payahku. Aku kadang tidak habis pikir bagaimana dia tidak tergoda untuk membeli sesuatu dan hanya menumpuk uang sakunya di dompet. Pada saat-saat tertentu kebiasaan baiknya ini membantu ibuku ketika dia perlu membeli buku pelajaran dan keuangan keluargaku sedang tidak stabil. Aku selalu membayangkan bahwa suatu saat nanti Aunu Rofiq bisa menjadi kaya raya dengan kebiasaannya itu.
Ada satu yang tidak bisa dilepaskan dari Aunu Rofiq..sifat gilanya pada binatang. Kenapa gila? ya karena dia sudah menganggap kucing seperti cewek cantik...bukan saja kucing, terakhir kulihat dia memelihara tikus (apasih dia menyebutnya, tapi yang jelas binatang itu tikus berwarna putih) dan aku melihatnya bermain dengan si tikus ini sudah diluar batas kenormalan seorang manusia (hehehe) seperti mendekapnya, menciumi atau bahkan meletakkan hewan menjijikkan ini di pipinya... ahhhh aku hanya bergidik jijik melihat polah si anak bungsu ini. Aku juga melihat di Facebook nya berisi banyak foto kucing yang menurutnya imutt, dan aku tak habis pikir dimana sih letak ke-imut-annya. (anybody explain me please..)
Okay lupakan sifat Aunu Rofiq yang setengah gila itu, sekarang lebih baik aku membahas sifatnya yang suka menyendiri dan kadang over sensitive. Aku pikir hal itu disebabkan karena sejak kecil dia sering sakit, jadi sedikit banyak hal itu mempengaruhi pola pikirnya ketika dewasa.Tapi aku lihat sekarang teman-temannya sudah mulai banyak.
Aku tahu menuliskan sesuatu tentang Aunu Rofiq tidak akan ada habisnya. Jadi lebih baik suatu hari nanti aku menuliskan lagi sesuatu tentangnya. Mungkin ketika nanti dia bercerita padaku bahwa dia sedang jatuh cinta, tapi bukan pada kucing tentunya.
Satu hal yang pasti Aunu Rofiq adalah nyawaku, aku masih berdiri tegak kadang juga karena aku tahu ada seorang adik yang selalu merindukanku ketika aku pergi jauh atau karena masalah yang selalu memukulku. Aku selalu punya semangat hidup darinya.
Aunu Rofik...ya dia adalah adikku.
Jakarta, 5 Maret 2011 3:44 PM
Aku sudah merasa terlalu tua untuk punya adik lagi....tapi teryata Tuhan memberiku, tidak seperti doa yang tiap hari kupanjatkan.."aku ingin adik kembar perempuan dua-duanya"...Ternyata Dia memberiku seorang adik laki-laki dan dia tidak kembar.
Aunu Rofiq...begitu ayahku memberinya nama. Tidak keren menurutku, seharusnya ayah memberinya nama Fernando atau Sergio karena saat itu aku lagi demam telenovela. Tapi Aunu rofiq, bukannya malah terdengar seperti penyanyi dangdut..>,<
Okay mungkin dia tidak pernah suka musik dangdut, dari kecil hingga sekarang 16 tahun.Yang kutahu selera si Aunu Rofiq ini tidak beda jauh dari aku, bukan karena aku kakaknya tapi karena dari kecil aku sudah sering mengomelinya kalau dia bersikap kampungan bin lebay. nahhh ternyata apa yang kuajarkan tidak sia-siakan?
Dibandingkan aku dengan Fathur Ridwan, adikku yang pertama. Aunu Rofiq memiliki kualitas otak dan IQ yang lebih baik, bukan karena kami bodoh atau semacamnya, si Aunu Rofiq ini hanya lebih baik di exact dan hitung-hitungan...aku mencoba mengingat apa saja yang diberikan ibuku untuknya. kenapa aku begitu membenci matematika dan tidak seperti dia yang selalu mendapatkan nilai bagus dalam soal hitungan. kami sama-sama mendapatkan ASI dari sumber yang sama. Bahkan susu tambahan dan makanan lain seingatku juga tidak ada yang istimewa...oke itu mungkin faktor keberuntungan nya si Aunu Rofik.
Tapi ketika sejak kecil dia selalu sakit-sakitan dan sering keluar masuk rumah sakit, aku dan mungkin juga Fathur ridwan merasa sangat bersalah. bukan apa-apa karena aku dan Fathur ridwan tidak pernah menderita penyakit apapun kecuali flu jika kami main hujan-hujanan, tapi Aunu Rofiq ini sejak kecil sudah didiagnosa dokter berbagai macam penyakit seperti ; Alergi, asthma, gastritis, TBC, types serta dia gampang sekali terkena virus. harusnya Tuhan membagi penyakit-penyakit itu kepada kami bertiga dan bukan menumpuknya ditubuh Aunu Rofik. Tapi ya..mungkin itu cara Tuhan mendidik Aunu Rofik, menjadikannya berbeda diantara kami. Meskipun sebenarnya dia sudah sangat berbeda. sejak dia dilahirkan aku merasa dialah anak ayah ibu yang paling disayang, kami sering sekali berebutan untuk mencium pipinya. Jika dia menangis, ibupun tidak segan untuk memarahi kami meskipun kadang itu bukan salah kami. Mungkin juga perbedaan itu karena waktu itu Aunu Rofiq sering sakit-sakitan sehingga wajar kalau ibu lebih memperhatikannya.
Dan sekarang ketika si youngest son ini sudah 16 tahun, dia masih saja tampak berbeda diantara kami. Salah satunya adalah dia masih saja suka nonton film kartun, tak perduli film apapun. Aku masih ingat waktu dia kelas 2 SMP dan masih tertegun melihat teletubbies :D, waktu itu setiap kali dia menonton film yang seharusnya ditujukan untuk komunitas playgroup itu aku selalu berdoa semoga nantinya dia akan baik-baik saja. (^__^)
Aunu Rofiq adalah pribadi yang unik, diluar kesukaannya pada film kartun. Dia sangat pintar menabung. untuk hal ini aku selalu membayangkan kalau saja aku memiliki sifat hemat nya, tentu saat ini aku sudah punya rumah dan kendaraan dari hasil jerih payahku. Aku kadang tidak habis pikir bagaimana dia tidak tergoda untuk membeli sesuatu dan hanya menumpuk uang sakunya di dompet. Pada saat-saat tertentu kebiasaan baiknya ini membantu ibuku ketika dia perlu membeli buku pelajaran dan keuangan keluargaku sedang tidak stabil. Aku selalu membayangkan bahwa suatu saat nanti Aunu Rofiq bisa menjadi kaya raya dengan kebiasaannya itu.
Ada satu yang tidak bisa dilepaskan dari Aunu Rofiq..sifat gilanya pada binatang. Kenapa gila? ya karena dia sudah menganggap kucing seperti cewek cantik...bukan saja kucing, terakhir kulihat dia memelihara tikus (apasih dia menyebutnya, tapi yang jelas binatang itu tikus berwarna putih) dan aku melihatnya bermain dengan si tikus ini sudah diluar batas kenormalan seorang manusia (hehehe) seperti mendekapnya, menciumi atau bahkan meletakkan hewan menjijikkan ini di pipinya... ahhhh aku hanya bergidik jijik melihat polah si anak bungsu ini. Aku juga melihat di Facebook nya berisi banyak foto kucing yang menurutnya imutt, dan aku tak habis pikir dimana sih letak ke-imut-annya. (anybody explain me please..)
Okay lupakan sifat Aunu Rofiq yang setengah gila itu, sekarang lebih baik aku membahas sifatnya yang suka menyendiri dan kadang over sensitive. Aku pikir hal itu disebabkan karena sejak kecil dia sering sakit, jadi sedikit banyak hal itu mempengaruhi pola pikirnya ketika dewasa.Tapi aku lihat sekarang teman-temannya sudah mulai banyak.
Aku tahu menuliskan sesuatu tentang Aunu Rofiq tidak akan ada habisnya. Jadi lebih baik suatu hari nanti aku menuliskan lagi sesuatu tentangnya. Mungkin ketika nanti dia bercerita padaku bahwa dia sedang jatuh cinta, tapi bukan pada kucing tentunya.
Satu hal yang pasti Aunu Rofiq adalah nyawaku, aku masih berdiri tegak kadang juga karena aku tahu ada seorang adik yang selalu merindukanku ketika aku pergi jauh atau karena masalah yang selalu memukulku. Aku selalu punya semangat hidup darinya.
Aunu Rofik...ya dia adalah adikku.
Jakarta, 5 Maret 2011 3:44 PM
Jumat, 04 Maret 2011
Having end as the start (memiliki akhir dari sebuah awal)
Kadang seseorang hanya perlu berhenti dari sebuah perjalanan dan berlabuh di suatu tempat, tidak perduli betapa jauh dan dimana saja selama ini kapalnya singgah.
Ada beberapa orang yang kuketahui dia memiliki jalan hidup yang aneh. ada yang suka nongkrong dengan teman-teman sampai lupa segalanya, ada yang suka gonta ganti pacar hingga tak segan mengoleksinya sebagai kepuasan pribadi. ada juga yang suka mabuk-mabukkan dan suka melihat film porno. Namun siapapun akan sadar bahwa dalam hidup harus selalu ada ujung dari sebuah perjalanan, meskipun ujung itu adalah awal dari perjalanan lain, karena selama nafas masih berhembus tidak akan pernah ada happy ending. Ketika kau sekolah kau akan lulus,kemudian kerja, menikah, punya anak, dan seterusnya...hingga riwayat hidup benar-benar ditutup dengan kematian.
Seseorang akan memulai lagi setelah dia mengakhiri sesuatu, dan permulaan tidak selamanya indah, bisa jadi itu lebih sulit dari sesuatu yang telah dia akhiri. aku ingat dulu pas kelulusan dari jurusan gizi, aku pikir perjalananku untuk belajar dan berjuang memperoleh nilai dan menghadapi mata kuliah yg sulit telah berakhir. aku merasa bahwa saat-saat wisuda adalah saat-saat penutup dan seterusnya adalah happy ending.
tapi ternyata tidak demikian...
dunia kerja lebih memeras otak lagi, bahkan kadang membuatku hampir gila ^__^
Dan perjuanganku di dunia kerja berkali-kali lipat dibandingkan dengan saat kuliah.
3,5 tahun yang lalu, ketika ada seseorang yang memintaku untuk menikah dengannya aku pikir aku benar-benar telah menutup dunia kerjaku dengan happy ending.
tapi ternyata tidak, dan aku harus memulainya dari nol lagi. dan itu lebihh berat dari pekerjaanku yang dulu.
dan suatu saat nanti aku harus mengakhiri dunia kerja untuk permulaan yang lain lagi. Sungguh sangat melelahkan...hidup ini
Tapi ya..semua selalu penuh kejutan, kadang tanpa disangka kita bisa menemukan sesuatu yang menyenangkan disaat-saat kita sudah putus asa. Ada satu yang masih kuingat bahwa Tuhan akan selalu menolong kita seberapa sulitnya perjuangan yang kita hadapi. Karenanya kadang aku hanya perlu menutup mata dan membiarkanNYA menuntun kemanapun arah yang kutuju..
Akan selalu ada akhir dari episode hidup, akhir yg berat, akhir yang menyenangkan, akhir yang menyedihkan, akhir yang menyenangkan...sekalipun kita tidak ingin berakhir..tapi semuanya selalu bergerak kesana..dan sayangnya kita tidak selalu bisa menginginkan akhir dari satu episode hidup...karena hidup itu adalah misteriNYA...dan DIA teramat indah untuk ditebak dengan keterbatasan kita
Jakarta, 4 Maret 2011 11:23 PM
Rabu, 02 Maret 2011
Me and Love story part 3
Massa yang paling indah adalah saat bersama banyak teman, berkumpul, tertawa dan saling bercanda
2003
Aku diterima di Politeknik Kesehatan Jurusan Gizi Malang, hal yang sangat tidak kuduga sebelumnya. karena awalnya aku ingin masuk ke jurusan fisika. waktu itu aku hanya bermaksud mengantarkan temanku untuk mendaftar di jurusan kebidanan, dan aku bermaksud iseng ketika dia menyuruhku untuk mendaftar juga, jadi aku mendaftar dijurusan gizi. Ternyata aku diterima di kedua bidang yang aku pilih itu, Fisika dan gizi. tapi karena pengumumannya lebih duluan digizi dan orangtuaku sudah terlanjur membayar untuk daftar ulang, maka dengan setengah terpaksa akupun masuk Jurusan Gizi.
Pada tahun kedua kuliah, aku tinggal di asrama gizi yang terletak 1 kompleks dengan kampus. aku tinggal di sebuah kamar bersama 3 orang temanku yang lain. Youzi, Lina, dan Heni. kami memiliki masa-masa yang sangat indah, mereka adalah teman terbaik untuk tertawa, bersedih, saling mencaci, saling mengerti, bahkan ketika kami sama-sama sibuk dengan tugas-tugas kuliah. Youzi yang cerewet, Lina yang rajin banget ibadahnya dan Heni yang sangat suka nonton konser. Kebersamaan dengan mereka adalah saat-saat terindah, aku selalu rindu dengan mereka.
2004
"Kamu mendekati ibunya untuk mendapatkan anaknya gitu vi?" aku hanya tersenyum mendengar tebakan Youzi. tetanggaku berkacamata itu, maksudku ibunya akhir-akhir ini sering titip dibelikan jilbab di malang, kebetulan aku tahu tempatnya.Dan ya, si ibu itu akhirnya banyak bercerita tentang pangeran dari masa kecilku itu. Dia ada di Malang juga, kuliah di sebuah universitas negeri. aku tidak tahu dimana dia tinggal, tapi sepertinya jauh dari asrama gizi tempatku tinggal. saat itu aku selalu membayangkan jika tanpa sengaja aku bertemu dengannya. Tapi hingga saat terakhir aku kuliah di Malang aku tidak pernah sekalipun bertemu dengannya. Ahhh dunia benar-benar tidak seperti sinetron.
to be continued...
2003
Aku diterima di Politeknik Kesehatan Jurusan Gizi Malang, hal yang sangat tidak kuduga sebelumnya. karena awalnya aku ingin masuk ke jurusan fisika. waktu itu aku hanya bermaksud mengantarkan temanku untuk mendaftar di jurusan kebidanan, dan aku bermaksud iseng ketika dia menyuruhku untuk mendaftar juga, jadi aku mendaftar dijurusan gizi. Ternyata aku diterima di kedua bidang yang aku pilih itu, Fisika dan gizi. tapi karena pengumumannya lebih duluan digizi dan orangtuaku sudah terlanjur membayar untuk daftar ulang, maka dengan setengah terpaksa akupun masuk Jurusan Gizi.
Pada tahun kedua kuliah, aku tinggal di asrama gizi yang terletak 1 kompleks dengan kampus. aku tinggal di sebuah kamar bersama 3 orang temanku yang lain. Youzi, Lina, dan Heni. kami memiliki masa-masa yang sangat indah, mereka adalah teman terbaik untuk tertawa, bersedih, saling mencaci, saling mengerti, bahkan ketika kami sama-sama sibuk dengan tugas-tugas kuliah. Youzi yang cerewet, Lina yang rajin banget ibadahnya dan Heni yang sangat suka nonton konser. Kebersamaan dengan mereka adalah saat-saat terindah, aku selalu rindu dengan mereka.
2004
"Kamu mendekati ibunya untuk mendapatkan anaknya gitu vi?" aku hanya tersenyum mendengar tebakan Youzi. tetanggaku berkacamata itu, maksudku ibunya akhir-akhir ini sering titip dibelikan jilbab di malang, kebetulan aku tahu tempatnya.Dan ya, si ibu itu akhirnya banyak bercerita tentang pangeran dari masa kecilku itu. Dia ada di Malang juga, kuliah di sebuah universitas negeri. aku tidak tahu dimana dia tinggal, tapi sepertinya jauh dari asrama gizi tempatku tinggal. saat itu aku selalu membayangkan jika tanpa sengaja aku bertemu dengannya. Tapi hingga saat terakhir aku kuliah di Malang aku tidak pernah sekalipun bertemu dengannya. Ahhh dunia benar-benar tidak seperti sinetron.
to be continued...
Selasa, 01 Maret 2011
3 tahun ini....
Masih sangat ingat, ketika aku baru pulang ke kediri setelah lebih dari 3 bulan di rumah yoan..berjuang dengan segala perasaan yang ada setelah perceraian yg menyakitkan itu. aku ingat bahwa saat itu aku masih sangat muda dan ada saat-saat aku merasa bahwa hidupku telah hancur karena masalah itu. ada juga saat-saat yang panjang ketika aku berusaha untuk evaluasi diri dan bertanya : sebenarnya dimana kesalahanku??
apakah ada yang salah ketika aku menjalani ta'aruf seperti yang disarankan agama? apakah mematuhi apa yang disarankan orang tua bukan jalan yang baik?ahhhh entahlah
Saat itu aku merasa jalanku ke depan sudah sangat gelap..aku seperti tak tahu apa yang kuinginkan. aku takut, aku tak berdaya. aku hanya mencoba untuk memejamkan mata dan berjalan saja. dan sampailah aku disini...
Aku ingin sebelum wajahku ini penuh dengan kerutan atau sebelum ajalku sampai di pergelangan. Apa sebenarnya mau Mu Tuhan?
apakah ada yang salah ketika aku menjalani ta'aruf seperti yang disarankan agama? apakah mematuhi apa yang disarankan orang tua bukan jalan yang baik?ahhhh entahlah
Saat itu aku merasa jalanku ke depan sudah sangat gelap..aku seperti tak tahu apa yang kuinginkan. aku takut, aku tak berdaya. aku hanya mencoba untuk memejamkan mata dan berjalan saja. dan sampailah aku disini...
Aku ingin sebelum wajahku ini penuh dengan kerutan atau sebelum ajalku sampai di pergelangan. Apa sebenarnya mau Mu Tuhan?
episode: sadness
Ini sudah 3 tahun, seharusnya aku memperingati hari bahagia, kalau saja itu tidak berakhir
bukan lagi karena cinta...aku sudah sangat membencinya, tapi rasa hormatku akan sakralnya pernikahan masih tersisa, bahkan ketika aku tidak menginginkannya lagi
Ini sudah 3 tahun dan ini berakhir 2 tahun yang lalu... aku menyesal meski kadang penyesalan hanya berujung pada satu kenyataan pahit : ini bukan salahku. tapi tetap saja inilah yang terjadi
Dan setiap tahun aku sadar bahwa begitu banyak air mata yang terbuang sia-sia, karena hal bodoh tak bisa melupakan. tapi bukan sekedar tak bisa melupakan. aku telah membencinya...sangat membencinya...seperti kebencian yang telah diajarkannya padaku yang mungkin akan terbawa hingga saatku mati
Jadi aku telah memikirkannya, sepertinya tak bisa pulang lagi saat hari raya...aku tetap tak siap dengan sakit yang lebih menyiksa lagi. aku tidak kuat, aku terlalu lemah untuk sebuah kesendirian yang tak berujung, bahkan ketika makhluk dari mars itu datang dan memberiku senyuman diantara air mata dan kedukaan, aku tahu bahwa mungkin suatu saat kisah ini akan berujung, dan ya...saat ini aku seperti sedang menanti sakit yang lebih parah lagi.
jadi lebih baik aku menunggu dan berkonsentrasi pada kerutan di wajah ini, atau apa saja yang belum bisa kubeli hingga saat kumati. karena untuk memikirkannya aku sudah sangat takut setengah mati. takut dia pergi, takut dia menyakiti, takut bahwa akhirnya hati ku benar-benar mati.
Jakarta 1 Maret 2011 11.53 PM
Langganan:
Postingan (Atom)













