Senin, 28 Februari 2011

About My Allien ......part 1

ada yang kubenci di saat hujan, diantara semua yang kusuka. akhir-akhir ini aku kehilangan 2 payungku, sehingga aku harus menghindarinya. aku tak suka menghindari hujan, tapi aku juga tak suka membeli payung. karena merasa terbiasa kehilangan, aku tak perlu mencari pengganti untuk kedua payungku.
kebiasaan itu yang terbawa hingga kini, aku benci merasa lelah, aku benci tidak bisa tidur, dan aku juga benci bersifat sensitif. karena tahu tidak ada lagi diary yang berisi kata-kata cinta. diary terakhir sudah kututup, dan itu dengan luka yang penuh darah. jadi aku tidak perlu lagi membeli yang baru. biar saja aku merasa kehilangan, seperti payungku yang entah dimana sekarang. namun aku tak perlu menghindari, karena sudah terjadi. seperti hujan yang kadang ada mendung sebelumnya, kadang sangat tiba-tiba. seseorang ini datangnya dengan tanda-tanda sebelumnya. 5 tahun yang lalu, tapi aku tidak memperhatikannya. kadang dia muncul kadang menghilang agak lama. sampai setahun yang lalu dia sangat dekat. tapi tidak, dia tidak membawakan payung baru untukku. dia membawa cinta (ah...akhirnya terdengar lagi), tiap hari mengajakku tersenyum dan menyuruhku makan. meski kadang aku berbohong sudah makan padahal belum. dia yang perduli kalau aku terlihat lemas, kalau aku terlihat sedih, bahkan jika menstruasiku terlambat karena kelelahan.aku suka dengan caranya, dengan tatapan nya yang sayu, dengan bentuk wajahnya ketika dia menghadap ke samping, dan dengan semua kata-katanya yang menenangkan. bagiku dia hiburan yang paling menyenangkan ketika aku berhadapan dengan atasanku yang kadang menyebalkan (hehe...piss dok) atau ketika aku teringat masa lalu yang menyeramkan. aku pun mulai menanti saat-saat dia datang, saat dia menyapa, atau saat dia bilang cinta. semuanya indah. bahkan saat dia marah (akhir-akhir ini aku sering bersikap hiperbol untuk memancing kemarahannya, but its not work, aku kesal sekaligus suka ^__^)eh tapi aku belum menyebut namanya dari semua uraian tentang dia. hmm namanya rahasia, aku tidak mau ada yang tahu tentang keberadaannya di facebook. tapi aku sering memanggilnya my allien (hiii mr. allien, are you read it!). kenapa allien? well karena dia aneh, suka menyendiri, maniak arsenal tingkat tinggi, jarang tertawa, serta seribu penyakit kepribadian lain yang aku rasa tidak wajar (peace honey ^__^ v). tapi apapun itu, aku jatuh cinta padanya karena satu hal. dia berbeda. ingat caranya memberiku nasehat sampai menyuruhku berhemat, yang ada aku malah bandel karena selalu ingin mendengar serentetan kalimat-kalimat lucu untuk memprotesku.aneh nya..aku juga tidak bisa berbohong padanya, padahal dia kadang tidak bisa melihatku.dengan semua itu aku merasa 17 tahun lagi (oh plss padahal aku 10 tahun lebih tua) dan aku bisa melupakan masa lalu yang membayangi tiap hari.
aku lupa, aku benci dan aku hidup lagi...yahhh meski mungkin tidak lama. aku berpikir tentang masa depan, dan aku melihat dinding dimana-mana. tidak ada jalan kecuali aku melihat ke atas, ke tempat hujan berasal. mungkin ada waktu untuk kita 2-3 tahun lagi, atau bahkan lebih dari itu. atau mungkin tidak didunia ini. kadang dia membuatku lupa ada batas diantara kita, tentu saja bukan sekedar monitor laptop atau jarak ribuan kilo. aku melatih diri untuk percaya pada keajaiban yang kuanggap basi, karena jika bukan karena itu rasanya mustahil bagi kita. terserah jika dia menggantungkan pada doa, aku lebih percaya pada keajaiban, kan semuanya sama-sama dari Tuhan.tapi akhir-akhir ini dia getol menyuruhku berdoa, yang akhirnya aku jadi punya motivasi lagi menghidupkan sholat malamku.mungkin aku harus bersabar untuk menapaki jalan-jalan penuh liku dengannya. juga berlatih sabar lagi untuk hal-hal sepele. seperti menguraikan semua kata-kata ditulisan ini dan bukan menyingkat kata-kata seperti yang biasa kulakukan. ya, supaya dia bisa menterjemahkan di google translate dan tidak bertanya padaku aku sedang menulis tentang apa. ^___^
Jakarta, September 29, 2010 at 1:17am to be continue...

Minggu, 27 Februari 2011

ARGGHHHH…

Ada beberapa orang sok tahu yang selalu berpendapat pada setiap hal yang didengar. Ada yang penuh penjelasan, ada yang kadang tidak masuk akal. Setiap hari aku mendengarnya. Ini ibu kota, setiap orang bebas berpendapat, bukankan negera ini Negara yang demokrasi. Yeah….. anehnya aku seperti berada pada ruangan sempit tanpa ventilasi. Setiap kali kudengar ada banyak opini tentang suatu hal. Padahal semua sampah… selalu merasa dirinya benar. Aku benci dengan orang yang mengaku pintar tapi banyak bicara. Aku benci  pada orang berpendidikan tapi selalu berkomentar. Sudahlahhh.. biarkan televise itu hanya berisi acara memasak dan film kartun yang bisa membuat tertawa. Biarlah Koran itu menulis tentang iptek dan tips berhubungan suami istri, sudah muak kita dengan acara berita dan gossip yang tidak bermutu. Pikirkan ayah ibumu yang beruban karena lelah berpikir tentang demonstrasi ditimur tengah. Pikirkan anak-anak kecil yang selalu bertanya apa yang dilakukan ariel dan luna maya.
Biarlah hidup ini berwarna dengan alam. Dengan pelangi, hujan, embun, bintang-bintang….
Galilah apa yang diciptakan Tuhan. sudah cukup berbuat kerusakan.
Jangan tunggu sebelum DIA benar-benar murka
Jakarta, 27 Februari 2011, 10.39 PM

ADA AYAHKU

20 tahun yang lalu, aku bisa merasakan, ketika aku ketiduran di depan TV ada tangan kokoh yang akan menggendong tubuhku dan mengangkatku ke tempat tidur. Aku sering terbangun pada saat itu, tapi pura-pura tetap tidur. Hingga saat ini sepotong cerita itu menetap di pikiranku. Tentang seorang laki-laki yang menurut pikiran lebayku sangat dewasa dan ksatria jika bisa mengangkat tubuhku dan memindahkanku ke suatu tempat.
Ada lagi sepotong cerita lain, saat ayah menjemputku di depan sekolah. Aku tidak tahu kalau beliau sudah nangkring di depan pagar sekolah dengan sepeda motornya, jadi aku tetap bermain dengan teman-temanku. Aku baru keluar sekolah 4 jam kemudian dan aku masih mendapati ayahku diluar sana dengan sangat sabarnya. Dia hanya bilang : apa aku yang jemputnya terlalu awal ya?
Aku pikir tidak akan pernah ada lelaki yang mampu menungguku selama itu tanpa ada kemarahan yang berarti. Ayahku lah yang pertama, mungkin juga yang terakhir.
Ayahku, berasal dari kampung…sebuah desa yang 10 tahun yang lalu baru diaspal jalannya. Sejak kecil setiap ada liburan sekolah aku selalu menghabiskan waktu di desa tempat ayahku dilahirkan. Ayahku sangat kasar, tangannya dan juga ucapannya. Sudah ribuan kali sejak aku kecil aku sering sekali tersinggung dengan ucapan ayah. Ayah hampir tak pernah berusaha menjaga perasaan anak-anaknya dengan kata-kata yang bagus. Jadi sejak kecil aku belajar untuk terbiasa dengan kekerasan hidup. Kerasnya kata-kata ayah jika aku berbuat salah. (ingat ketika boss ku sedang sensi dan aku hanya menganggap makian nya seperti angin lalu).
Ada suatu waktu ayahku sangat kampungan, ayah tidak pernah mengenal kata gadget..dia baru punya HP setelah 5 tahun lebih aku memilikinya. Dan itupun hanya untuk telepon. Aku ingat ketika aku dan adikku berfoto dengan kamera di HP ayah, dengan sangat polosnya ayah berteriak pada kami : Hey jangan banyak-banyak fotonya, ntar filmnya habis :D …aku dan adikku hanya bisa berpandangan lalu tertawa sampai satu jam lamanya.
Yang paling kuingat adalah 2 tahun yang lalu, ketika ayah mengantarkanku untuk merantau ke Jakarta, ada penyesalan di wajahnya untuk penyesalan karena pernah menyuruhku menikah dan gagal. Ayahku yang keras kepala, yang selalu berkata kasar, ayahku yang ketika aku tidak dirumah tidak pernah sekalipun menelpon ku kecuali 1-2 kali saja. Ayahku yang selalu kampungan. Ayahku yang kadang sangat dictator. Ketika kereta apiku datang, dengan segala kerendahan hati seorang ayah, laki-laki 55 tahun asal desa tiru kidul-kediri-jawa timur  itu berkata : Vi, maafkan ayah..sekarang kau bebas memilih jalan hidupmu..
Itulah ayahku…
Aku masih ingat jika aku merasa kecewa dengan laki-laki
Jika aku merasa tidak ada laki-laki yang baik, jika aku merasa dunia sudah penuh dengan keanehan
Aku masih ingat, ada ayahku yang masih belum bisa menggunakan kamera di HP nya
Love u DAD..

Kamis, 24 Februari 2011

Me and Love Story Part 2

Part 2 : Dia yang bernama Denny, bukan sekedar teman
1998
“Yang itu cakep vi…Coba deh lihat hidungnya hehehe” aku Cuma nyengir mendengar bisikan ninik, best friendku.  Saat itu kami sedang berada di kelas bimbel, untuk pelajaran Fisika. Baru memasuki tahun ajaran baru kami disibukkan dengan persiapan menyambut kelulusan. Aku mengambil kelas bimbel setiap 3 x seminggu sepulang sekolah. Dan hari pertama aku langsung disibukkan dengan godaan dari ninik untuk melirik seorang laki-laki berhidung mancung. Hemmmmm cakep sihh
“okay cukup, aku harus belajar!” kataku pada diri sendiri. 5 bulan berlalu sejak pertama kali aku bertemu dengan si hidung mancung. Denny saputra, begitu namanya…tinggi, kulit coklat muda, rambut lurus pendek dan rapi, serta hidung yg mancung. Denny tipikal cowok yang sangat ramai. Di bimbel, dia sangat berisik, tidak seperti saat pertama kali bertemu dengannya yang kupikir dia sangat pendiam. Dan jujur akhir-akhir ini aku sering memikirkannya, apalagi kalau bukan pandangannya diam-diam ke arahku ketika pelajaran sedang berlangsung. Dia juga banyak tanya tentang aku pada teman-temanku. Well saat itu aku sedang jomblo sih, setelah beberapa kali putus sambung dengan beberapa cowok ala cinta monyet. Aku memilih untuk tidak punya pacar dulu untuk persiapan EBTANAS, aku ingin sekali masuk ke sebuah SMA favorit di kotaku.
1999
“Thanks ya vi” aku menerima kaset ‘the moffats’ yang diulurkan Denny. Kuberikan dia senyum terindah sebelum dia pergi. Aku sangat suka the moffats, karena itu aku ingin segera mendengarkan music kesukaanku itu setelah Denny mengembalikan kaset yang dia pinjam kemarin.Ketika kubuka kasetnya, aku menemukan secarik kecil kertas, dengan stabilo warna pink dan hijau muda disitu jelas tertulis 3 kata ajaib : I LOVE YOU. Aku kaget, antara bingung, bahagia, dan entah perasaan apa. Aku sudah berteman dengan Denny selama 1 tahun. Kami belajar bersama, tertawa bersama dan saling bercanda. Rasanya aneh tiba-tiba dia punya perasaan seperti ini. Sebelum aku berpikir lebih jauh, ibuku memanggil karena ada telepon untukku. Denny.
“Sorry ya Vi, yang tadi Cuma bercanda” aku Cuma terdiam mendengar konfirmasi Denny atas pernyataannya pada secarik kertas itu. Tidak ada yang bisa kukatakan, meski dalam hati ada sedikit kekecewaan. Yang pasti setelah itu pertemanan kami kembali lancar.
2001
“Ohh jadi itu yang namanya Denny” teman-temanku pada heboh ketika seorang cowok berseragam dari sekolah lain memasuki halaman parkir sekolahku. Aku tidak menjawab gurauan temanku. Lagian semua pada heboh dan membuatku malu. Kan tidak enak kalau Denny sampai tahu. Kami kan Cuma berteman.
Seperti biasa Denny akan memboncengku dibelakang motornya. Mengajakku makan bakso atau  es campur di dekat sekolahku. Kami bercanda meski kadang bercandaan kami banyak garingnya. Denny berusaha untuk menjaga persahabatan kami, meski aku tidak memungkiri bahwa ada sesuatu yang selalu ingin dia sampaikan padaku.
Hingga ketika tiba-tiba dia lama menghilang dan tidak muncul disekolahku setelah berbulan-bulan. Sampai kemudian dia datang lagi di bimbel yang kuikuti. Dia berada di kelasku tanpa kusadari. Ketika aku menoleh kebelakang, aku menemukan senyumnya menatap ke arahku. Denny datang lagi, dengan cara yang aneh dia kembali mendekatiku.lagi-lagi kami memiliki kebersamaan lagi. Denny selalu berlaku baik dan sangat memperhatikanku. Waktu itu aku bahagia dengannya.
2002
Akhir kelulusan SMA membuatku sibuk belajar, bimbel hampir setiap hari dan itupun setiap pulang sekolah. Energy yang kumiliki habis terkuras untuk belajar. Ibu manyuruhku harus bisa masuk universits negeri dan aku tahu otakku pas-pasan, aku hanya bisa mengandalkan kerja keras. Aku tidak tahu kapan terakhir kali bertemu Denny sampai dia benar-benar pergi dari hidupku. Aku tak punya keberanian untuk menelponnya, padahal aku sangat merindukannya. Aku sadar setelah semua ujian kelulusan selesai dan aku bisa masuk universitas negeri bahwa aku benar-benar kehilangan Denny. Aku bahkan tak sempat mengucapkan selamat tinggal.
To : Denny
Dikota kelahiranku, setiap aku pulang dari manapun, aku selalu sempatkan berkeliling kota, mencari disetiap sudut berharap bahwa aku bisa menemukanmu. Tapi meskipun aku menganggap kota ini kecil namun aku tetap tak bisa menemukanmu. Hingga kini kau seperti menghilang. Benar-benar tanpa jejak, aku bahkan telah kehilangan Winnie the pooh yang kau berikan saat ulang tahunku. Dimana kau Den? Ijinkan aku mempertanyakan tentang perasanmu…

To be continued…

Me and Love Story

Tentang sebuah kisah, oh ini sebuah kenyataan. Meski sekilas mungkin seperti cerita sinetron. Ada orang yang baik yang jadi tokoh utama, yang selalu teraniaya dan tertindas. Lalu ada tokoh jahat yang akan melakukan segala cara untuk memperoleh apa yang diinginkan. Dan ini terjadi dalam hidupku.
Oke aku akan bercerita: uhmmm sepertinya akan menjadi semacam cerita bersambung. Selamat menikmati.
Part 1 : Namaku Vivi
1990
“Dasar cina!!! Hati-hati kalo jalan!” aku menunduk, tak sanggup rasanya membalas. Itu ocehan yang kesekian kali, rasanya mengiris hati. Tapi aku diamkan, toh sudah seperti santapan sehari-hari. Tuti temanku sudah melangkah jauh didepanku. Aku ketinggalan lagi.
Aku lebih suka berjalan pelan, apalagi jika lewat di depan rumah ini. Rumah besar bertembok besi. Ada sebuah kesenangan ketika lewat didepannya. Sebuah makhluk indah yang kutunggu.
“Hai adek kecil, baru pulang ya?” yup, itulah dia. Suaranya sangat merdu membuat desiran aneh dihatiku. Aku hanya tersenyum, lalu berlari kecil malu-malu. Berpura-pura tidak menengok ke belakang, padahal aku ingin sekali melakukannya.
1994
“Cepat berangkat, ntar terlambat!!” aku hanya tersenyum, kuterima suapan nasi dan telur ceplok dari tangan ibu. Kemudian dengan langkah perlahan kuambil koper kotak warna coklat di kursi. Jam pertama matematika, aku ditakdirkan untuk membenci semua yang berkaitan dengan angka, jadi hari ini sangat tak bersemangat. Sepeda miniku sudah terparkir didepan pintu, aku melangkah gontai.
Tuhan memberiku hiburan sebelum menyiksaku dengan metamatika yang menjemukan. Di depan rumah nenekku ada dua laki-laki berbaju seragam SMA. Yang satu kakak sepupuku yang satu temannya. Aku tidak perduli pada kakak sepupuku karena dia juga akan mengejekku dengan sebutan cina! Tapi temannya itu….
“Hai dek vivi, mau berangkat sekolah ya…. Hati-hati ya!” nah kan…. Itulah semangatku hari ini. Suaranya yang sangat renyah seperti keripik singkong hangat dan seharum the hijau sejati. Ahhhh sepanjang pelajaran matematika aku tak merasa bosa sama sekali. Pak joko guru matematika tiba-tiba menjelma menjadi siswa SMA berkacamata, berkulit putih dengan senyum yang sangat menawan. Aku sangat senang.
1997
“Aku sepertinya suka, dia yang paling tampan” aku berbisik pada nevi temanku. Kami saling berbicara tentang kakak kelas yang mengospek kami. Ada satu yang kelihatan sangat macho.
Benar saja besoknya aku menjelma menjadi sosok penuh wibawa. Kemana vivi yang sangat pemalu? Aku datang memberi sang kakak surat bersampul pink. Ahhh aku tak perduli kata orang.
Dan benar saja dua hari kemudian aku menerima balasannya. isinya tak sepanjang surat yang aku berikan kemarin. Cukup 3 kata ajaib : I LOVE YOU
Jadi ini cinta pertamaku, lega…tapi tak cukup bahagia. Aku menatap awan dan melihat sebuah wajah, tapi bukan wajah sang kakak kelas, tapi sebuah wajah dengan bingkai kaca mata di kedua matanya…

To be continued………..

Rabu, 23 Februari 2011

untuk cinta yang kubawa

aku mengenali hidup ini
dari ranting pohon, bukan dari jalanan yang beraspal
meskipun jalanan di depan rumahku sudah beraspal, tapi aku suka bila tinggal dirumah mbah
bermain pasir di jalanan berpasir, tanpa perduli ada bis besar yang akan menghancurkan rumah yang kubangun
aku seperti nyawa bagi beberapa kumbang di kembang yang sering kuhirup madunya
ketika jalanan masih berbau embun, dan sawah masih terhampar luas
dan ibu selalu menyuruhku bangun pagi
sekarang tidak ada yang tersisa...
wangi embun sudah tertutup asap rokok, sawah tergilas bangunan
dan aku semakin jarang bangun pagi
namun nyawaku masih nyawa yg dulu, pun rupaku tak berubah
hanya  pengalaman hidup menampar berkali-kali
dan luka besar menganga didepan wajahku
jadi jangan heran bila aku tak bisa lupa dan menganggap angin lalu
karena setiaku pada cinta, mungkin mengalahkan ikan yang begitu patuh pada air yang membawanya
dan sekarang aku akan ada
dan membawa cinta itu
dan tidak akan menyesatkanku
hingga nanti aku sendiri  yang memilih menyerah karena tidak ada jalan lagi
untuk cinta yang kudekap erat

Jakarta 24 february 2011

ketika hampir menyerah