Jumat, 04 Maret 2011
Having end as the start (memiliki akhir dari sebuah awal)
Kadang seseorang hanya perlu berhenti dari sebuah perjalanan dan berlabuh di suatu tempat, tidak perduli betapa jauh dan dimana saja selama ini kapalnya singgah.
Ada beberapa orang yang kuketahui dia memiliki jalan hidup yang aneh. ada yang suka nongkrong dengan teman-teman sampai lupa segalanya, ada yang suka gonta ganti pacar hingga tak segan mengoleksinya sebagai kepuasan pribadi. ada juga yang suka mabuk-mabukkan dan suka melihat film porno. Namun siapapun akan sadar bahwa dalam hidup harus selalu ada ujung dari sebuah perjalanan, meskipun ujung itu adalah awal dari perjalanan lain, karena selama nafas masih berhembus tidak akan pernah ada happy ending. Ketika kau sekolah kau akan lulus,kemudian kerja, menikah, punya anak, dan seterusnya...hingga riwayat hidup benar-benar ditutup dengan kematian.
Seseorang akan memulai lagi setelah dia mengakhiri sesuatu, dan permulaan tidak selamanya indah, bisa jadi itu lebih sulit dari sesuatu yang telah dia akhiri. aku ingat dulu pas kelulusan dari jurusan gizi, aku pikir perjalananku untuk belajar dan berjuang memperoleh nilai dan menghadapi mata kuliah yg sulit telah berakhir. aku merasa bahwa saat-saat wisuda adalah saat-saat penutup dan seterusnya adalah happy ending.
tapi ternyata tidak demikian...
dunia kerja lebih memeras otak lagi, bahkan kadang membuatku hampir gila ^__^
Dan perjuanganku di dunia kerja berkali-kali lipat dibandingkan dengan saat kuliah.
3,5 tahun yang lalu, ketika ada seseorang yang memintaku untuk menikah dengannya aku pikir aku benar-benar telah menutup dunia kerjaku dengan happy ending.
tapi ternyata tidak, dan aku harus memulainya dari nol lagi. dan itu lebihh berat dari pekerjaanku yang dulu.
dan suatu saat nanti aku harus mengakhiri dunia kerja untuk permulaan yang lain lagi. Sungguh sangat melelahkan...hidup ini
Tapi ya..semua selalu penuh kejutan, kadang tanpa disangka kita bisa menemukan sesuatu yang menyenangkan disaat-saat kita sudah putus asa. Ada satu yang masih kuingat bahwa Tuhan akan selalu menolong kita seberapa sulitnya perjuangan yang kita hadapi. Karenanya kadang aku hanya perlu menutup mata dan membiarkanNYA menuntun kemanapun arah yang kutuju..
Akan selalu ada akhir dari episode hidup, akhir yg berat, akhir yang menyenangkan, akhir yang menyedihkan, akhir yang menyenangkan...sekalipun kita tidak ingin berakhir..tapi semuanya selalu bergerak kesana..dan sayangnya kita tidak selalu bisa menginginkan akhir dari satu episode hidup...karena hidup itu adalah misteriNYA...dan DIA teramat indah untuk ditebak dengan keterbatasan kita
Jakarta, 4 Maret 2011 11:23 PM
Rabu, 02 Maret 2011
Me and Love story part 3
Massa yang paling indah adalah saat bersama banyak teman, berkumpul, tertawa dan saling bercanda
2003
Aku diterima di Politeknik Kesehatan Jurusan Gizi Malang, hal yang sangat tidak kuduga sebelumnya. karena awalnya aku ingin masuk ke jurusan fisika. waktu itu aku hanya bermaksud mengantarkan temanku untuk mendaftar di jurusan kebidanan, dan aku bermaksud iseng ketika dia menyuruhku untuk mendaftar juga, jadi aku mendaftar dijurusan gizi. Ternyata aku diterima di kedua bidang yang aku pilih itu, Fisika dan gizi. tapi karena pengumumannya lebih duluan digizi dan orangtuaku sudah terlanjur membayar untuk daftar ulang, maka dengan setengah terpaksa akupun masuk Jurusan Gizi.
Pada tahun kedua kuliah, aku tinggal di asrama gizi yang terletak 1 kompleks dengan kampus. aku tinggal di sebuah kamar bersama 3 orang temanku yang lain. Youzi, Lina, dan Heni. kami memiliki masa-masa yang sangat indah, mereka adalah teman terbaik untuk tertawa, bersedih, saling mencaci, saling mengerti, bahkan ketika kami sama-sama sibuk dengan tugas-tugas kuliah. Youzi yang cerewet, Lina yang rajin banget ibadahnya dan Heni yang sangat suka nonton konser. Kebersamaan dengan mereka adalah saat-saat terindah, aku selalu rindu dengan mereka.
2004
"Kamu mendekati ibunya untuk mendapatkan anaknya gitu vi?" aku hanya tersenyum mendengar tebakan Youzi. tetanggaku berkacamata itu, maksudku ibunya akhir-akhir ini sering titip dibelikan jilbab di malang, kebetulan aku tahu tempatnya.Dan ya, si ibu itu akhirnya banyak bercerita tentang pangeran dari masa kecilku itu. Dia ada di Malang juga, kuliah di sebuah universitas negeri. aku tidak tahu dimana dia tinggal, tapi sepertinya jauh dari asrama gizi tempatku tinggal. saat itu aku selalu membayangkan jika tanpa sengaja aku bertemu dengannya. Tapi hingga saat terakhir aku kuliah di Malang aku tidak pernah sekalipun bertemu dengannya. Ahhh dunia benar-benar tidak seperti sinetron.
to be continued...
2003
Aku diterima di Politeknik Kesehatan Jurusan Gizi Malang, hal yang sangat tidak kuduga sebelumnya. karena awalnya aku ingin masuk ke jurusan fisika. waktu itu aku hanya bermaksud mengantarkan temanku untuk mendaftar di jurusan kebidanan, dan aku bermaksud iseng ketika dia menyuruhku untuk mendaftar juga, jadi aku mendaftar dijurusan gizi. Ternyata aku diterima di kedua bidang yang aku pilih itu, Fisika dan gizi. tapi karena pengumumannya lebih duluan digizi dan orangtuaku sudah terlanjur membayar untuk daftar ulang, maka dengan setengah terpaksa akupun masuk Jurusan Gizi.
Pada tahun kedua kuliah, aku tinggal di asrama gizi yang terletak 1 kompleks dengan kampus. aku tinggal di sebuah kamar bersama 3 orang temanku yang lain. Youzi, Lina, dan Heni. kami memiliki masa-masa yang sangat indah, mereka adalah teman terbaik untuk tertawa, bersedih, saling mencaci, saling mengerti, bahkan ketika kami sama-sama sibuk dengan tugas-tugas kuliah. Youzi yang cerewet, Lina yang rajin banget ibadahnya dan Heni yang sangat suka nonton konser. Kebersamaan dengan mereka adalah saat-saat terindah, aku selalu rindu dengan mereka.
2004
"Kamu mendekati ibunya untuk mendapatkan anaknya gitu vi?" aku hanya tersenyum mendengar tebakan Youzi. tetanggaku berkacamata itu, maksudku ibunya akhir-akhir ini sering titip dibelikan jilbab di malang, kebetulan aku tahu tempatnya.Dan ya, si ibu itu akhirnya banyak bercerita tentang pangeran dari masa kecilku itu. Dia ada di Malang juga, kuliah di sebuah universitas negeri. aku tidak tahu dimana dia tinggal, tapi sepertinya jauh dari asrama gizi tempatku tinggal. saat itu aku selalu membayangkan jika tanpa sengaja aku bertemu dengannya. Tapi hingga saat terakhir aku kuliah di Malang aku tidak pernah sekalipun bertemu dengannya. Ahhh dunia benar-benar tidak seperti sinetron.
to be continued...
Selasa, 01 Maret 2011
3 tahun ini....
Masih sangat ingat, ketika aku baru pulang ke kediri setelah lebih dari 3 bulan di rumah yoan..berjuang dengan segala perasaan yang ada setelah perceraian yg menyakitkan itu. aku ingat bahwa saat itu aku masih sangat muda dan ada saat-saat aku merasa bahwa hidupku telah hancur karena masalah itu. ada juga saat-saat yang panjang ketika aku berusaha untuk evaluasi diri dan bertanya : sebenarnya dimana kesalahanku??
apakah ada yang salah ketika aku menjalani ta'aruf seperti yang disarankan agama? apakah mematuhi apa yang disarankan orang tua bukan jalan yang baik?ahhhh entahlah
Saat itu aku merasa jalanku ke depan sudah sangat gelap..aku seperti tak tahu apa yang kuinginkan. aku takut, aku tak berdaya. aku hanya mencoba untuk memejamkan mata dan berjalan saja. dan sampailah aku disini...
Aku ingin sebelum wajahku ini penuh dengan kerutan atau sebelum ajalku sampai di pergelangan. Apa sebenarnya mau Mu Tuhan?
apakah ada yang salah ketika aku menjalani ta'aruf seperti yang disarankan agama? apakah mematuhi apa yang disarankan orang tua bukan jalan yang baik?ahhhh entahlah
Saat itu aku merasa jalanku ke depan sudah sangat gelap..aku seperti tak tahu apa yang kuinginkan. aku takut, aku tak berdaya. aku hanya mencoba untuk memejamkan mata dan berjalan saja. dan sampailah aku disini...
Aku ingin sebelum wajahku ini penuh dengan kerutan atau sebelum ajalku sampai di pergelangan. Apa sebenarnya mau Mu Tuhan?
episode: sadness
Ini sudah 3 tahun, seharusnya aku memperingati hari bahagia, kalau saja itu tidak berakhir
bukan lagi karena cinta...aku sudah sangat membencinya, tapi rasa hormatku akan sakralnya pernikahan masih tersisa, bahkan ketika aku tidak menginginkannya lagi
Ini sudah 3 tahun dan ini berakhir 2 tahun yang lalu... aku menyesal meski kadang penyesalan hanya berujung pada satu kenyataan pahit : ini bukan salahku. tapi tetap saja inilah yang terjadi
Dan setiap tahun aku sadar bahwa begitu banyak air mata yang terbuang sia-sia, karena hal bodoh tak bisa melupakan. tapi bukan sekedar tak bisa melupakan. aku telah membencinya...sangat membencinya...seperti kebencian yang telah diajarkannya padaku yang mungkin akan terbawa hingga saatku mati
Jadi aku telah memikirkannya, sepertinya tak bisa pulang lagi saat hari raya...aku tetap tak siap dengan sakit yang lebih menyiksa lagi. aku tidak kuat, aku terlalu lemah untuk sebuah kesendirian yang tak berujung, bahkan ketika makhluk dari mars itu datang dan memberiku senyuman diantara air mata dan kedukaan, aku tahu bahwa mungkin suatu saat kisah ini akan berujung, dan ya...saat ini aku seperti sedang menanti sakit yang lebih parah lagi.
jadi lebih baik aku menunggu dan berkonsentrasi pada kerutan di wajah ini, atau apa saja yang belum bisa kubeli hingga saat kumati. karena untuk memikirkannya aku sudah sangat takut setengah mati. takut dia pergi, takut dia menyakiti, takut bahwa akhirnya hati ku benar-benar mati.
Jakarta 1 Maret 2011 11.53 PM
Senin, 28 Februari 2011
About My Allien ......part 1
ada yang kubenci di saat hujan, diantara semua yang kusuka. akhir-akhir ini aku kehilangan 2 payungku, sehingga aku harus menghindarinya. aku tak suka menghindari hujan, tapi aku juga tak suka membeli payung. karena merasa terbiasa kehilangan, aku tak perlu mencari pengganti untuk kedua payungku.
kebiasaan itu yang terbawa hingga kini, aku benci merasa lelah, aku benci tidak bisa tidur, dan aku juga benci bersifat sensitif. karena tahu tidak ada lagi diary yang berisi kata-kata cinta. diary terakhir sudah kututup, dan itu dengan luka yang penuh darah. jadi aku tidak perlu lagi membeli yang baru. biar saja aku merasa kehilangan, seperti payungku yang entah dimana sekarang. namun aku tak perlu menghindari, karena sudah terjadi. seperti hujan yang kadang ada mendung sebelumnya, kadang sangat tiba-tiba. seseorang ini datangnya dengan tanda-tanda sebelumnya. 5 tahun yang lalu, tapi aku tidak memperhatikannya. kadang dia muncul kadang menghilang agak lama. sampai setahun yang lalu dia sangat dekat. tapi tidak, dia tidak membawakan payung baru untukku. dia membawa cinta (ah...akhirnya terdengar lagi), tiap hari mengajakku tersenyum dan menyuruhku makan. meski kadang aku berbohong sudah makan padahal belum. dia yang perduli kalau aku terlihat lemas, kalau aku terlihat sedih, bahkan jika menstruasiku terlambat karena kelelahan.aku suka dengan caranya, dengan tatapan nya yang sayu, dengan bentuk wajahnya ketika dia menghadap ke samping, dan dengan semua kata-katanya yang menenangkan. bagiku dia hiburan yang paling menyenangkan ketika aku berhadapan dengan atasanku yang kadang menyebalkan (hehe...piss dok) atau ketika aku teringat masa lalu yang menyeramkan. aku pun mulai menanti saat-saat dia datang, saat dia menyapa, atau saat dia bilang cinta. semuanya indah. bahkan saat dia marah (akhir-akhir ini aku sering bersikap hiperbol untuk memancing kemarahannya, but its not work, aku kesal sekaligus suka ^__^)eh tapi aku belum menyebut namanya dari semua uraian tentang dia. hmm namanya rahasia, aku tidak mau ada yang tahu tentang keberadaannya di facebook. tapi aku sering memanggilnya my allien (hiii mr. allien, are you read it!). kenapa allien? well karena dia aneh, suka menyendiri, maniak arsenal tingkat tinggi, jarang tertawa, serta seribu penyakit kepribadian lain yang aku rasa tidak wajar (peace honey ^__^ v). tapi apapun itu, aku jatuh cinta padanya karena satu hal. dia berbeda. ingat caranya memberiku nasehat sampai menyuruhku berhemat, yang ada aku malah bandel karena selalu ingin mendengar serentetan kalimat-kalimat lucu untuk memprotesku.aneh nya..aku juga tidak bisa berbohong padanya, padahal dia kadang tidak bisa melihatku.dengan semua itu aku merasa 17 tahun lagi (oh plss padahal aku 10 tahun lebih tua) dan aku bisa melupakan masa lalu yang membayangi tiap hari.
aku lupa, aku benci dan aku hidup lagi...yahhh meski mungkin tidak lama. aku berpikir tentang masa depan, dan aku melihat dinding dimana-mana. tidak ada jalan kecuali aku melihat ke atas, ke tempat hujan berasal. mungkin ada waktu untuk kita 2-3 tahun lagi, atau bahkan lebih dari itu. atau mungkin tidak didunia ini. kadang dia membuatku lupa ada batas diantara kita, tentu saja bukan sekedar monitor laptop atau jarak ribuan kilo. aku melatih diri untuk percaya pada keajaiban yang kuanggap basi, karena jika bukan karena itu rasanya mustahil bagi kita. terserah jika dia menggantungkan pada doa, aku lebih percaya pada keajaiban, kan semuanya sama-sama dari Tuhan.tapi akhir-akhir ini dia getol menyuruhku berdoa, yang akhirnya aku jadi punya motivasi lagi menghidupkan sholat malamku.mungkin aku harus bersabar untuk menapaki jalan-jalan penuh liku dengannya. juga berlatih sabar lagi untuk hal-hal sepele. seperti menguraikan semua kata-kata ditulisan ini dan bukan menyingkat kata-kata seperti yang biasa kulakukan. ya, supaya dia bisa menterjemahkan di google translate dan tidak bertanya padaku aku sedang menulis tentang apa. ^___^
Jakarta, September 29, 2010 at 1:17am to be continue...
kebiasaan itu yang terbawa hingga kini, aku benci merasa lelah, aku benci tidak bisa tidur, dan aku juga benci bersifat sensitif. karena tahu tidak ada lagi diary yang berisi kata-kata cinta. diary terakhir sudah kututup, dan itu dengan luka yang penuh darah. jadi aku tidak perlu lagi membeli yang baru. biar saja aku merasa kehilangan, seperti payungku yang entah dimana sekarang. namun aku tak perlu menghindari, karena sudah terjadi. seperti hujan yang kadang ada mendung sebelumnya, kadang sangat tiba-tiba. seseorang ini datangnya dengan tanda-tanda sebelumnya. 5 tahun yang lalu, tapi aku tidak memperhatikannya. kadang dia muncul kadang menghilang agak lama. sampai setahun yang lalu dia sangat dekat. tapi tidak, dia tidak membawakan payung baru untukku. dia membawa cinta (ah...akhirnya terdengar lagi), tiap hari mengajakku tersenyum dan menyuruhku makan. meski kadang aku berbohong sudah makan padahal belum. dia yang perduli kalau aku terlihat lemas, kalau aku terlihat sedih, bahkan jika menstruasiku terlambat karena kelelahan.aku suka dengan caranya, dengan tatapan nya yang sayu, dengan bentuk wajahnya ketika dia menghadap ke samping, dan dengan semua kata-katanya yang menenangkan. bagiku dia hiburan yang paling menyenangkan ketika aku berhadapan dengan atasanku yang kadang menyebalkan (hehe...piss dok) atau ketika aku teringat masa lalu yang menyeramkan. aku pun mulai menanti saat-saat dia datang, saat dia menyapa, atau saat dia bilang cinta. semuanya indah. bahkan saat dia marah (akhir-akhir ini aku sering bersikap hiperbol untuk memancing kemarahannya, but its not work, aku kesal sekaligus suka ^__^)eh tapi aku belum menyebut namanya dari semua uraian tentang dia. hmm namanya rahasia, aku tidak mau ada yang tahu tentang keberadaannya di facebook. tapi aku sering memanggilnya my allien (hiii mr. allien, are you read it!). kenapa allien? well karena dia aneh, suka menyendiri, maniak arsenal tingkat tinggi, jarang tertawa, serta seribu penyakit kepribadian lain yang aku rasa tidak wajar (peace honey ^__^ v). tapi apapun itu, aku jatuh cinta padanya karena satu hal. dia berbeda. ingat caranya memberiku nasehat sampai menyuruhku berhemat, yang ada aku malah bandel karena selalu ingin mendengar serentetan kalimat-kalimat lucu untuk memprotesku.aneh nya..aku juga tidak bisa berbohong padanya, padahal dia kadang tidak bisa melihatku.dengan semua itu aku merasa 17 tahun lagi (oh plss padahal aku 10 tahun lebih tua) dan aku bisa melupakan masa lalu yang membayangi tiap hari.
aku lupa, aku benci dan aku hidup lagi...yahhh meski mungkin tidak lama. aku berpikir tentang masa depan, dan aku melihat dinding dimana-mana. tidak ada jalan kecuali aku melihat ke atas, ke tempat hujan berasal. mungkin ada waktu untuk kita 2-3 tahun lagi, atau bahkan lebih dari itu. atau mungkin tidak didunia ini. kadang dia membuatku lupa ada batas diantara kita, tentu saja bukan sekedar monitor laptop atau jarak ribuan kilo. aku melatih diri untuk percaya pada keajaiban yang kuanggap basi, karena jika bukan karena itu rasanya mustahil bagi kita. terserah jika dia menggantungkan pada doa, aku lebih percaya pada keajaiban, kan semuanya sama-sama dari Tuhan.tapi akhir-akhir ini dia getol menyuruhku berdoa, yang akhirnya aku jadi punya motivasi lagi menghidupkan sholat malamku.mungkin aku harus bersabar untuk menapaki jalan-jalan penuh liku dengannya. juga berlatih sabar lagi untuk hal-hal sepele. seperti menguraikan semua kata-kata ditulisan ini dan bukan menyingkat kata-kata seperti yang biasa kulakukan. ya, supaya dia bisa menterjemahkan di google translate dan tidak bertanya padaku aku sedang menulis tentang apa. ^___^
Jakarta, September 29, 2010 at 1:17am to be continue...
Minggu, 27 Februari 2011
ARGGHHHH…
Ada beberapa orang sok tahu yang selalu berpendapat pada setiap hal yang didengar. Ada yang penuh penjelasan, ada yang kadang tidak masuk akal. Setiap hari aku mendengarnya. Ini ibu kota, setiap orang bebas berpendapat, bukankan negera ini Negara yang demokrasi. Yeah….. anehnya aku seperti berada pada ruangan sempit tanpa ventilasi. Setiap kali kudengar ada banyak opini tentang suatu hal. Padahal semua sampah… selalu merasa dirinya benar. Aku benci dengan orang yang mengaku pintar tapi banyak bicara. Aku benci pada orang berpendidikan tapi selalu berkomentar. Sudahlahhh.. biarkan televise itu hanya berisi acara memasak dan film kartun yang bisa membuat tertawa. Biarlah Koran itu menulis tentang iptek dan tips berhubungan suami istri, sudah muak kita dengan acara berita dan gossip yang tidak bermutu. Pikirkan ayah ibumu yang beruban karena lelah berpikir tentang demonstrasi ditimur tengah. Pikirkan anak-anak kecil yang selalu bertanya apa yang dilakukan ariel dan luna maya.
Biarlah hidup ini berwarna dengan alam. Dengan pelangi, hujan, embun, bintang-bintang….
Galilah apa yang diciptakan Tuhan. sudah cukup berbuat kerusakan.
Jangan tunggu sebelum DIA benar-benar murka
Jakarta, 27 Februari 2011, 10.39 PM
Langganan:
Postingan (Atom)













