Minggu, 27 Februari 2011

ADA AYAHKU

20 tahun yang lalu, aku bisa merasakan, ketika aku ketiduran di depan TV ada tangan kokoh yang akan menggendong tubuhku dan mengangkatku ke tempat tidur. Aku sering terbangun pada saat itu, tapi pura-pura tetap tidur. Hingga saat ini sepotong cerita itu menetap di pikiranku. Tentang seorang laki-laki yang menurut pikiran lebayku sangat dewasa dan ksatria jika bisa mengangkat tubuhku dan memindahkanku ke suatu tempat.
Ada lagi sepotong cerita lain, saat ayah menjemputku di depan sekolah. Aku tidak tahu kalau beliau sudah nangkring di depan pagar sekolah dengan sepeda motornya, jadi aku tetap bermain dengan teman-temanku. Aku baru keluar sekolah 4 jam kemudian dan aku masih mendapati ayahku diluar sana dengan sangat sabarnya. Dia hanya bilang : apa aku yang jemputnya terlalu awal ya?
Aku pikir tidak akan pernah ada lelaki yang mampu menungguku selama itu tanpa ada kemarahan yang berarti. Ayahku lah yang pertama, mungkin juga yang terakhir.
Ayahku, berasal dari kampung…sebuah desa yang 10 tahun yang lalu baru diaspal jalannya. Sejak kecil setiap ada liburan sekolah aku selalu menghabiskan waktu di desa tempat ayahku dilahirkan. Ayahku sangat kasar, tangannya dan juga ucapannya. Sudah ribuan kali sejak aku kecil aku sering sekali tersinggung dengan ucapan ayah. Ayah hampir tak pernah berusaha menjaga perasaan anak-anaknya dengan kata-kata yang bagus. Jadi sejak kecil aku belajar untuk terbiasa dengan kekerasan hidup. Kerasnya kata-kata ayah jika aku berbuat salah. (ingat ketika boss ku sedang sensi dan aku hanya menganggap makian nya seperti angin lalu).
Ada suatu waktu ayahku sangat kampungan, ayah tidak pernah mengenal kata gadget..dia baru punya HP setelah 5 tahun lebih aku memilikinya. Dan itupun hanya untuk telepon. Aku ingat ketika aku dan adikku berfoto dengan kamera di HP ayah, dengan sangat polosnya ayah berteriak pada kami : Hey jangan banyak-banyak fotonya, ntar filmnya habis :D …aku dan adikku hanya bisa berpandangan lalu tertawa sampai satu jam lamanya.
Yang paling kuingat adalah 2 tahun yang lalu, ketika ayah mengantarkanku untuk merantau ke Jakarta, ada penyesalan di wajahnya untuk penyesalan karena pernah menyuruhku menikah dan gagal. Ayahku yang keras kepala, yang selalu berkata kasar, ayahku yang ketika aku tidak dirumah tidak pernah sekalipun menelpon ku kecuali 1-2 kali saja. Ayahku yang selalu kampungan. Ayahku yang kadang sangat dictator. Ketika kereta apiku datang, dengan segala kerendahan hati seorang ayah, laki-laki 55 tahun asal desa tiru kidul-kediri-jawa timur  itu berkata : Vi, maafkan ayah..sekarang kau bebas memilih jalan hidupmu..
Itulah ayahku…
Aku masih ingat jika aku merasa kecewa dengan laki-laki
Jika aku merasa tidak ada laki-laki yang baik, jika aku merasa dunia sudah penuh dengan keanehan
Aku masih ingat, ada ayahku yang masih belum bisa menggunakan kamera di HP nya
Love u DAD..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar