Part 2 : Dia yang bernama Denny, bukan sekedar teman
1998
“Yang itu cakep vi…Coba deh lihat hidungnya hehehe” aku Cuma nyengir mendengar bisikan ninik, best friendku. Saat itu kami sedang berada di kelas bimbel, untuk pelajaran Fisika. Baru memasuki tahun ajaran baru kami disibukkan dengan persiapan menyambut kelulusan. Aku mengambil kelas bimbel setiap 3 x seminggu sepulang sekolah. Dan hari pertama aku langsung disibukkan dengan godaan dari ninik untuk melirik seorang laki-laki berhidung mancung. Hemmmmm cakep sihh
“okay cukup, aku harus belajar!” kataku pada diri sendiri. 5 bulan berlalu sejak pertama kali aku bertemu dengan si hidung mancung. Denny saputra, begitu namanya…tinggi, kulit coklat muda, rambut lurus pendek dan rapi, serta hidung yg mancung. Denny tipikal cowok yang sangat ramai. Di bimbel, dia sangat berisik, tidak seperti saat pertama kali bertemu dengannya yang kupikir dia sangat pendiam. Dan jujur akhir-akhir ini aku sering memikirkannya, apalagi kalau bukan pandangannya diam-diam ke arahku ketika pelajaran sedang berlangsung. Dia juga banyak tanya tentang aku pada teman-temanku. Well saat itu aku sedang jomblo sih, setelah beberapa kali putus sambung dengan beberapa cowok ala cinta monyet. Aku memilih untuk tidak punya pacar dulu untuk persiapan EBTANAS, aku ingin sekali masuk ke sebuah SMA favorit di kotaku.
1999
“Thanks ya vi” aku menerima kaset ‘the moffats’ yang diulurkan Denny. Kuberikan dia senyum terindah sebelum dia pergi. Aku sangat suka the moffats, karena itu aku ingin segera mendengarkan music kesukaanku itu setelah Denny mengembalikan kaset yang dia pinjam kemarin.Ketika kubuka kasetnya, aku menemukan secarik kecil kertas, dengan stabilo warna pink dan hijau muda disitu jelas tertulis 3 kata ajaib : I LOVE YOU. Aku kaget, antara bingung, bahagia, dan entah perasaan apa. Aku sudah berteman dengan Denny selama 1 tahun. Kami belajar bersama, tertawa bersama dan saling bercanda. Rasanya aneh tiba-tiba dia punya perasaan seperti ini. Sebelum aku berpikir lebih jauh, ibuku memanggil karena ada telepon untukku. Denny.
“Sorry ya Vi, yang tadi Cuma bercanda” aku Cuma terdiam mendengar konfirmasi Denny atas pernyataannya pada secarik kertas itu. Tidak ada yang bisa kukatakan, meski dalam hati ada sedikit kekecewaan. Yang pasti setelah itu pertemanan kami kembali lancar.
2001
“Ohh jadi itu yang namanya Denny” teman-temanku pada heboh ketika seorang cowok berseragam dari sekolah lain memasuki halaman parkir sekolahku. Aku tidak menjawab gurauan temanku. Lagian semua pada heboh dan membuatku malu. Kan tidak enak kalau Denny sampai tahu. Kami kan Cuma berteman.
Seperti biasa Denny akan memboncengku dibelakang motornya. Mengajakku makan bakso atau es campur di dekat sekolahku. Kami bercanda meski kadang bercandaan kami banyak garingnya. Denny berusaha untuk menjaga persahabatan kami, meski aku tidak memungkiri bahwa ada sesuatu yang selalu ingin dia sampaikan padaku.
Hingga ketika tiba-tiba dia lama menghilang dan tidak muncul disekolahku setelah berbulan-bulan. Sampai kemudian dia datang lagi di bimbel yang kuikuti. Dia berada di kelasku tanpa kusadari. Ketika aku menoleh kebelakang, aku menemukan senyumnya menatap ke arahku. Denny datang lagi, dengan cara yang aneh dia kembali mendekatiku.lagi-lagi kami memiliki kebersamaan lagi. Denny selalu berlaku baik dan sangat memperhatikanku. Waktu itu aku bahagia dengannya.
2002
Akhir kelulusan SMA membuatku sibuk belajar, bimbel hampir setiap hari dan itupun setiap pulang sekolah. Energy yang kumiliki habis terkuras untuk belajar. Ibu manyuruhku harus bisa masuk universits negeri dan aku tahu otakku pas-pasan, aku hanya bisa mengandalkan kerja keras. Aku tidak tahu kapan terakhir kali bertemu Denny sampai dia benar-benar pergi dari hidupku. Aku tak punya keberanian untuk menelponnya, padahal aku sangat merindukannya. Aku sadar setelah semua ujian kelulusan selesai dan aku bisa masuk universitas negeri bahwa aku benar-benar kehilangan Denny. Aku bahkan tak sempat mengucapkan selamat tinggal.
To : Denny
Dikota kelahiranku, setiap aku pulang dari manapun, aku selalu sempatkan berkeliling kota, mencari disetiap sudut berharap bahwa aku bisa menemukanmu. Tapi meskipun aku menganggap kota ini kecil namun aku tetap tak bisa menemukanmu. Hingga kini kau seperti menghilang. Benar-benar tanpa jejak, aku bahkan telah kehilangan Winnie the pooh yang kau berikan saat ulang tahunku. Dimana kau Den? Ijinkan aku mempertanyakan tentang perasanmu…
To be continued…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar