Rabu, 23 Februari 2011

untuk cinta yang kubawa

aku mengenali hidup ini
dari ranting pohon, bukan dari jalanan yang beraspal
meskipun jalanan di depan rumahku sudah beraspal, tapi aku suka bila tinggal dirumah mbah
bermain pasir di jalanan berpasir, tanpa perduli ada bis besar yang akan menghancurkan rumah yang kubangun
aku seperti nyawa bagi beberapa kumbang di kembang yang sering kuhirup madunya
ketika jalanan masih berbau embun, dan sawah masih terhampar luas
dan ibu selalu menyuruhku bangun pagi
sekarang tidak ada yang tersisa...
wangi embun sudah tertutup asap rokok, sawah tergilas bangunan
dan aku semakin jarang bangun pagi
namun nyawaku masih nyawa yg dulu, pun rupaku tak berubah
hanya  pengalaman hidup menampar berkali-kali
dan luka besar menganga didepan wajahku
jadi jangan heran bila aku tak bisa lupa dan menganggap angin lalu
karena setiaku pada cinta, mungkin mengalahkan ikan yang begitu patuh pada air yang membawanya
dan sekarang aku akan ada
dan membawa cinta itu
dan tidak akan menyesatkanku
hingga nanti aku sendiri  yang memilih menyerah karena tidak ada jalan lagi
untuk cinta yang kudekap erat

Jakarta 24 february 2011

ketika hampir menyerah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar