Tentang sebuah kisah, oh ini sebuah kenyataan. Meski sekilas mungkin seperti cerita sinetron. Ada orang yang baik yang jadi tokoh utama, yang selalu teraniaya dan tertindas. Lalu ada tokoh jahat yang akan melakukan segala cara untuk memperoleh apa yang diinginkan. Dan ini terjadi dalam hidupku.
Oke aku akan bercerita: uhmmm sepertinya akan menjadi semacam cerita bersambung. Selamat menikmati.
Part 1 : Namaku Vivi
1990
“Dasar cina!!! Hati-hati kalo jalan!” aku menunduk, tak sanggup rasanya membalas. Itu ocehan yang kesekian kali, rasanya mengiris hati. Tapi aku diamkan, toh sudah seperti santapan sehari-hari. Tuti temanku sudah melangkah jauh didepanku. Aku ketinggalan lagi.
Aku lebih suka berjalan pelan, apalagi jika lewat di depan rumah ini. Rumah besar bertembok besi. Ada sebuah kesenangan ketika lewat didepannya. Sebuah makhluk indah yang kutunggu.
“Hai adek kecil, baru pulang ya?” yup, itulah dia. Suaranya sangat merdu membuat desiran aneh dihatiku. Aku hanya tersenyum, lalu berlari kecil malu-malu. Berpura-pura tidak menengok ke belakang, padahal aku ingin sekali melakukannya.
1994
“Cepat berangkat, ntar terlambat!!” aku hanya tersenyum, kuterima suapan nasi dan telur ceplok dari tangan ibu. Kemudian dengan langkah perlahan kuambil koper kotak warna coklat di kursi. Jam pertama matematika, aku ditakdirkan untuk membenci semua yang berkaitan dengan angka, jadi hari ini sangat tak bersemangat. Sepeda miniku sudah terparkir didepan pintu, aku melangkah gontai.
Tuhan memberiku hiburan sebelum menyiksaku dengan metamatika yang menjemukan. Di depan rumah nenekku ada dua laki-laki berbaju seragam SMA. Yang satu kakak sepupuku yang satu temannya. Aku tidak perduli pada kakak sepupuku karena dia juga akan mengejekku dengan sebutan cina! Tapi temannya itu….
“Hai dek vivi, mau berangkat sekolah ya…. Hati-hati ya!” nah kan…. Itulah semangatku hari ini. Suaranya yang sangat renyah seperti keripik singkong hangat dan seharum the hijau sejati. Ahhhh sepanjang pelajaran matematika aku tak merasa bosa sama sekali. Pak joko guru matematika tiba-tiba menjelma menjadi siswa SMA berkacamata, berkulit putih dengan senyum yang sangat menawan. Aku sangat senang.
1997
“Aku sepertinya suka, dia yang paling tampan” aku berbisik pada nevi temanku. Kami saling berbicara tentang kakak kelas yang mengospek kami. Ada satu yang kelihatan sangat macho.
Benar saja besoknya aku menjelma menjadi sosok penuh wibawa. Kemana vivi yang sangat pemalu? Aku datang memberi sang kakak surat bersampul pink. Ahhh aku tak perduli kata orang.
Dan benar saja dua hari kemudian aku menerima balasannya. isinya tak sepanjang surat yang aku berikan kemarin. Cukup 3 kata ajaib : I LOVE YOU
Jadi ini cinta pertamaku, lega…tapi tak cukup bahagia. Aku menatap awan dan melihat sebuah wajah, tapi bukan wajah sang kakak kelas, tapi sebuah wajah dengan bingkai kaca mata di kedua matanya…
To be continued………..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar